10 Sunnah Nabi Saat Puasa Ramadhan yang Sering Dilupakan

By

Nasafi Ahmad

8 March 2026, 09:48 WIB

10 Sunnah Nabi Saat Puasa Ramadhan yang Sering Dilupakan. (Foto: Canva).

Ramadhan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Bagi seorang Muslim, bulan ini adalah “madrasah” spiritual untuk meraih derajat takwa yang setinggi-tingginya. Namun, seringkali kita terjebak dalam rutinitas puasa yang mekanis—hanya sekadar tidak makan dan tidak minum—sehingga esensi dan keberkahan yang lebih dalam terlewatkan begitu saja.

Padahal, Rasulullah SAW telah mencontohkan berbagai amalan ringan namun berpahala besar yang bisa menyempurnakan ibadah kita. Sayangnya, karena kesibukan duniawi atau kurangnya literasi, banyak dari amalan ini yang mulai ditinggalkan. Memahami dan mengamalkan sunnah Nabi saat puasa Ramadhan bukan hanya soal menambah pahala, tetapi juga cara kita mengekspresikan cinta kepada Sang Khaliq melalui keteladanan Rasul-Nya.

Dalam artikel ini, kita akan mengulas secara mendalam 10 sunnah yang sering terlupakan agar Ramadhan Anda tahun ini jauh lebih bermakna dan berkualitas.

Pentingnya Menghidupkan Sunnah Nabi Saat Puasa Ramadhan

Sebelum masuk ke daftar utama, kita perlu memahami mengapa menghidupkan sunnah itu krusial. Dalam kaidah fikih, ibadah wajib adalah fondasi, sedangkan sunnah adalah penyempurna. Ibarat sebuah rumah, wajib adalah tiangnya, dan sunnah adalah dinding serta hiasan yang membuatnya indah dan nyaman dihuni.

Mengikuti sunnah Nabi saat puasa Ramadhan membantu kita menjaga kualitas batin agar tidak terjebak dalam “puasa orang awam” yang hanya mendapatkan lapar dan haus saja. Dengan menghidupkan sunnah, kita sedang melakukan optimasi spiritual agar setiap detik di bulan suci ini bernilai investasi akhirat.

10 Sunnah Nabi yang Sering Terlupakan

Berikut adalah daftar amalan yang dicontohkan Rasulullah SAW yang sebaiknya kita hidupkan kembali:

1. Mengakhirkan Waktu Sahur

Banyak orang memilih sahur di tengah malam agar bisa langsung tidur kembali hingga subuh. Padahal, sunnah yang utama adalah mengakhirkan sahur (mendekati waktu imsak/subuh).

  • Keutamaan: Rasulullah SAW bersabda bahwa dalam sahur terdapat keberkahan. Mengakhirkannya membantu fisik tetap kuat selama berpuasa dan memastikan kita tidak melewatkan shalat Subuh berjamaah.

2. Menyegerakan Berbuka (Ta’jil al-Fithr)

Berkebalikan dengan sahur, saat berbuka kita disunnahkan untuk menyegerakannya begitu azan berkumandang. Jangan menunda-nunda hanya karena tanggung menyelesaikan pekerjaan atau terjebak dalam obrolan.

  • Tips: Cukup batalkan dengan seteguk air atau kurma, lalu tunaikan shalat Maghrib terlebih dahulu sebelum makan besar.

3. Berbuka dengan Ruthab atau Kurma (Bilangan Ganjil)

Sunnah Nabi saat puasa Ramadhan yang sangat spesifik adalah berbuka dengan ruthab (kurma basah). Jika tidak ada, barulah tamr (kurma kering), dan jika tidak ada juga, cukup dengan air putih.

  • Manfaat Medis: Kurma mengandung glukosa alami yang cepat diserap tubuh untuk mengembalikan energi setelah belasan jam berpuasa.

4. Menjaga Lisan dari Perkataan Sia-sia (Laghwu)

Seringkali kita berhasil menahan lapar, tapi gagal menahan lisan dari ghibah, berbohong, atau mencela. Rasulullah mengingatkan bahwa puasa bukan hanya menahan makan, tapi juga menahan diri dari rafats (perkataan kotor) dan jahl (kebodohan/pertikaian).

5. Memperbanyak Sedekah dan Kedermawanan

Ibnu Abbas RA menceritakan bahwa Rasulullah SAW adalah orang yang paling dermawan, dan beliau menjadi jauh lebih dermawan lagi saat bulan Ramadhan. Inilah saat terbaik untuk berbagi, baik melalui takjil gratis, santunan anak yatim, maupun zakat mal.

6. Tadarus Al-Qur’an dengan Tadabbur

Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an. Sunnahnya bukan sekadar mengejar target khatam (kuantitas), tetapi juga memahami maknanya (kualitas). Luangkan waktu untuk membaca terjemahan dan tafsir singkat agar Al-Qur’an benar-benar menjadi petunjuk hidup.

7. Memberi Makan Orang yang Berpuasa

Pahala memberi makan orang yang berbuka puasa setara dengan pahala orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahalanya sedikit pun. Ini adalah peluang emas bagi siapa saja, bahkan jika hanya mampu memberi sebiji kurma atau segelas air.

8. Melaksanakan I’tikaf di Sepuluh Malam Terakhir

I’tikaf atau berdiam diri di masjid untuk beribadah adalah tradisi yang selalu dijaga Rasulullah SAW untuk memburu malam Lailatul Qadar. Di zaman modern, sunnah ini sering ditinggalkan karena orang lebih sibuk berbelanja di mal untuk persiapan Idul Fitri.

9. Mandi Janabah Sebelum Fajar

Bagi yang memiliki hadas besar, disunnahkan untuk mandi sebelum waktu subuh agar dapat memulai puasa dalam keadaan suci sepenuhnya dan siap melaksanakan ibadah di awal waktu.

10. Tetap Bersemangat Meski di Akhir Ramadhan

Fenomena “masjid yang safnya maju” (makin sepi) di akhir bulan adalah hal yang menyedihkan. Sunnah Nabi justru menunjukkan peningkatan intensitas ibadah di sepuluh hari terakhir, bukan malah mengendor karena sibuk mengurus persiapan mudik atau kue lebaran.

Strategi Mengamalkan Adab Berpuasa Menurut Rasulullah

Agar Anda tidak lupa, berikut adalah tabel panduan praktis untuk mengoptimalkan hari-hari Anda di bulan Ramadhan:

Waktu Amalan Sunnah
Dini Hari Mengakhirkan sahur & Shalat Tahajud
Pagi – Siang Tadarus Al-Qur’an & Menjaga lisan
Sore Menyiapkan makanan untuk orang berbuka
Maghrib Menyegerakan berbuka & Berdoa (Mustajab)
Malam Shalat Tarawih berjamaah & I’tikaf (10 hari terakhir)

FAQ: Pertanyaan Seputar Amalan Ramadhan

1. Apakah sah puasa jika tidak sahur?

Puasa tetap sah selama sudah berniat di malam hari. Namun, Anda kehilangan keberkahan besar yang terdapat dalam sunnah Nabi saat puasa Ramadhan yaitu makan sahur.

2. Apa doa berbuka yang paling sesuai sunnah?

Doa yang masyhur dan memiliki riwayat kuat adalah: “Dzahabaz zhama’u wabtallatil ‘uruuqu wa tsabatal ajru insya Allah” (Telah hilang rasa haus, telah basah urat-urat, dan telah tetap pahala, insya Allah).

3. Bagaimana jika saya tidak bisa i’tikaf di masjid karena bekerja?

Anda tetap bisa menghidupkan malam dengan memperbanyak zikir, shalat malam di rumah, dan membaca Al-Qur’an di sela waktu istirahat kerja. Esensinya adalah meningkatkan kedekatan dengan Allah.

4. Apakah menyikat gigi membatalkan puasa?

Secara hukum fikih, menyikat gigi tidak membatalkan puasa selama tidak ada pasta gigi atau air yang tertelan. Namun, sebagian ulama memakruhkan penggunaan siwak atau sikat gigi setelah waktu zawal (tengah hari).

Kesimpulan: Mari Raih Ramadhan Terbaik

Menjalankan ibadah puasa bukan sekadar menggugurkan kewajiban tahunan. Dengan menghidupkan kembali sunnah Nabi saat puasa Ramadhan, kita memberikan hak bagi jiwa kita untuk bertumbuh dan bersih dari noda dosa. Mulailah dari hal kecil: mengakhirkan sahur, menjaga lisan, dan lebih dermawan kepada sesama.

Keberkahan Ramadhan terletak pada seberapa kuat upaya kita untuk meneladani perilaku mulia Rasulullah SAW. Jangan biarkan Ramadhan tahun ini berlalu begitu saja tanpa bekas transformasi spiritual yang nyata.

Apakah Anda sudah siap menghidupkan sunnah-sunnah tersebut hari ini? Jika Anda merasa artikel ini bermanfaat, bagikan kepada keluarga dan sahabat agar pahala jariyahnya terus mengalir bagi kita semua.

Related Post

Leave a Comment