Sunnah Nabi dalam Shalat Tarawih di Bulan Ramadhan

By

Nasafi Ahmad

8 February 2026, 09:57 WIB

Adab shalat Tarawih, jumlah rakaat Tarawih, shalat malam Ramadhan, keutamaan qiyamul lail, tata cara shalat sunnah. (Foto: Canva).

Bulan Ramadhan bukan sekadar tentang menahan lapar dan haus dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Bagi umat Muslim, malam-malam Ramadhan adalah momentum emas untuk menjemput ampunan melalui ibadah qiyamul lail. Salah satu ibadah yang paling dinanti dan menjadi ciri khas bulan suci ini adalah shalat Tarawih. Namun, sejauh mana kita telah menjalankan ibadah ini sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW? Memahami Sunnah Nabi dalam shalat Tarawih bukan hanya soal menggugurkan kewajiban, melainkan strategi untuk meraih kesempurnaan pahala di bulan penuh berkah.

Apa Itu Shalat Tarawih?

Secara bahasa, “Tarawih” berasal dari kata tarwihatun yang berarti “istirahat”. Dinamakan demikian karena para sahabat Nabi terdahulu melakukan istirahat sejenak setiap selesai melaksanakan empat rakaat (dua kali salam). Dalam literatur fiqih, Tarawih merupakan shalat sunnah muakkad (sangat dianjurkan) yang dikerjakan khusus pada malam hari di bulan Ramadhan.

Rasulullah SAW bersabda:

“Barangsiapa yang melakukan qiyamul lail di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Menggali Kedalaman Sunnah Nabi dalam Shalat Tarawih

Untuk menghidupkan malam Ramadhan dengan optimal, kita perlu merujuk pada praktik yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. Berikut adalah poin-poin penting mengenai sunnah dan adab dalam pelaksanaannya.

1. Pelaksanaan Secara Berjamaah maupun Sendiri

Salah satu poin menarik dalam Sunnah Nabi dalam shalat Tarawih adalah sejarah pelaksanaannya. Rasulullah SAW pernah melaksanakannya secara berjamaah di masjid selama tiga malam berturut-turut. Namun, pada malam keempat, beliau tidak keluar ke masjid karena khawatir ibadah ini akan dianggap sebagai kewajiban yang memberatkan umatnya.

Sejak zaman Khalifah Umar bin Khattab, shalat Tarawih secara berjamaah di masjid menjadi syiar yang diorganisir dengan rapi hingga hari ini. Meskipun boleh dilakukan sendiri di rumah (terutama bagi wanita atau mereka yang memiliki udzur), melakukannya secara berjamaah di masjid memiliki keutamaan syiar dan pahala yang besar.

2. Jumlah Rakaat: Kelenturan dalam Syariat

Perdebatan mengenai jumlah rakaat seringkali muncul di tengah masyarakat. Namun, jika kita merujuk pada tata cara shalat sunnah yang luas, Nabi SAW tidak memberikan batasan kaku yang menutup ruang bagi umatnya.

  • Riwayat 11 Rakaat: Aisyah RA menyebutkan bahwa Nabi SAW tidak pernah menambah shalat malam lebih dari 11 rakaat, baik di bulan Ramadhan maupun bulan lainnya.

  • Praktik Sahabat (23 Rakaat): Di masa Umar bin Khattab, para sahabat melaksanakan 20 rakaat ditambah 3 rakaat Witir untuk memberikan kemudahan bagi makmum agar bacaan suratnya tidak terlalu panjang namun jumlah rakaatnya banyak.

Inti dari sunnah ini adalah kualitas kekhusyukan dan ketenangan (thuma’ninah), bukan sekadar mengejar angka.

3. Memperpanjang Bacaan dan Berdiri Lama

Bagi Rasulullah SAW, shalat malam Ramadhan adalah ajang “curhat” kepada Sang Pencipta. Beliau seringkali membaca surat-surat yang panjang dengan tartil. Sunnahnya adalah menikmati setiap ayat yang dibaca, merenungi maknanya, dan tidak terburu-buru. Jika Anda menjadi imam, sunnahnya adalah menyesuaikan dengan kondisi makmum agar tidak memberatkan, namun tetap menjaga kewibawaan shalat.

Adab Shalat Tarawih yang Sering Terlupakan

Seringkali kita terjebak dalam rutinitas sehingga melupakan esensi dari adab shalat Tarawih. Padahal, adab inilah yang menjadi penentu kualitas ibadah kita.

Menjaga Kebersihan dan Wangi-wangian

Pergi ke masjid untuk Tarawih menuntut kita untuk tampil dengan keadaan terbaik. Gunakan pakaian yang bersih dan hindari aroma mulut yang tidak sedap (seperti bau bawang atau rokok) agar tidak mengganggu kekhusyukan jamaah lain.

Thuma’ninah: Kunci Sahnya Shalat

Banyak fenomena “Tarawih Kilat” yang beredar di media sosial. Secara syariat, shalat yang dilakukan terlalu cepat hingga menghilangkan rukun thuma’ninah (diam sejenak) dapat membatalkan shalat tersebut. Sunnah Nabi mengajarkan kita untuk tenang dalam ruku, sujud, dan i’tidal.

Keutamaan Qiyamul Lail di Bulan Suci

Mengapa kita harus bersusah payah bangun malam untuk shalat Tarawih? Selain mengharap ampunan dosa, keutamaan qiyamul lail di bulan Ramadhan mencakup:

  1. Mendapatkan Lailatul Qadar: Dengan konsisten Tarawih setiap malam, peluang kita mendapatkan keberkahan malam yang lebih baik dari seribu bulan menjadi lebih besar.

  2. Pahala Shalat Semalam Suntuk: Bagi mereka yang shalat berjamaah bersama imam hingga selesai (termasuk Witir), maka dicatat baginya pahala shalat semalam penuh.

  3. Kesehatan Spiritual dan Fisik: Gerakan shalat yang dilakukan secara berulang dan teratur setelah berbuka puasa membantu proses metabolisme tubuh dan menenangkan pikiran.

FAQ: Pertanyaan Umum Mengenai Shalat Tarawih

1. Apakah boleh shalat Tarawih tanpa shalat Witir?

Boleh, namun sangat merugi. Shalat Witir adalah penutup shalat malam. Disunnahkan untuk menjadikan Witir sebagai akhir dari rangkaian ibadah malam Anda.

2. Mana yang lebih utama, Tarawih di awal malam atau di sepertiga malam?

Untuk Ramadhan, Tarawih berjamaah di awal malam (setelah Isya) lebih utama karena mengikuti syiar berjamaah. Namun, jika ingin menambah shalat Tahajud di sepertiga malam, hal itu sangat dianjurkan.

3. Apakah wanita lebih baik Tarawih di masjid atau di rumah?

Pada asalnya, shalat wanita lebih utama di rumah. Namun, Nabi SAW melarang para suami melarang istrinya ke masjid jika mereka ingin mencari ilmu dan suasana berjamaah, selama tetap menjaga adab dan menutup aurat dengan sempurna.

4. Bolehkah memegang mushaf Al-Qur’an saat menjadi imam Tarawih?

Boleh. Sebagian ulama memperbolehkan imam atau makmum melihat mushaf jika tujuannya adalah untuk menyelesaikan khataman Al-Qur’an dalam shalat Tarawih.

Kesimpulan: Jemput Keberkahan dengan Sunnah

Melaksanakan Sunnah Nabi dalam shalat Tarawih adalah cara terbaik bagi setiap Muslim untuk menunjukkan kecintaan kepada Rasulullah SAW sekaligus memaksimalkan potensi ibadah di bulan Ramadhan. Jangan biarkan malam-malam Anda berlalu begitu saja tanpa bekas. Pilihlah kualitas daripada kuantitas, hiasi shalat Anda dengan thuma’ninah, dan jagalah konsistensi hingga akhir bulan.

Ramadhan hanya datang setahun sekali, dan tidak ada jaminan kita akan menemuinya lagi tahun depan. Mari kita jadikan setiap rakaat Tarawih kita tahun ini sebagai persembahan terbaik untuk Allah SWT.

Related Post

Leave a Comment