Ramadhan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Di balik ritual tahunan ini, terdapat momen krusial yang sering kali dianggap remeh, yakni waktu sahur. Banyak dari kita mungkin menganggap sahur hanya sebagai ajang “mengisi baterai” agar kuat berpuasa seharian. Padahal, jika kita menelaah lebih dalam, terdapat berbagai Sunnah Nabi saat sahur yang menyimpan rahasia keberkahan luar biasa, baik dari sisi spiritual maupun kesehatan, yang sayangnya masih jarang diketahui oleh umat Muslim saat ini.
Mengapa Sahur Begitu Istimewa dalam Islam?
Sebelum membahas rincian teknis mengenai apa saja sunnah yang bisa dilakukan, kita perlu memahami esensi dari sahur itu sendiri. Rasulullah SAW bersahur bukan hanya untuk urusan fisik. Beliau menyebut sahur sebagai al-barakah (keberkahan).
Dalam sebuah hadits riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda: “Bersahurlah kalian, karena pada sahur itu ada keberkahan.” Keberkahan ini mencakup banyak hal: keberkahan dalam energi tubuh, keberkahan dalam waktu, hingga keberkahan berupa doa dari para malaikat. Memahami Sunnah Nabi saat sahur akan mengubah cara pandang kita dari sekadar makan menjadi sebuah ibadah yang bernilai pahala tinggi.
Daftar Sunnah Nabi Saat Sahur yang Sering Terlupakan
Berikut adalah beberapa amalan sunnah yang diajarkan oleh Rasulullah SAW yang dapat Anda praktikkan untuk meraih kesempurnaan puasa:
1. Mengakhirkan Waktu Sahur (Takhirus Sahur)
Salah satu Sunnah Nabi saat sahur yang paling utama adalah mengakhirkan waktunya. Berbeda dengan buka puasa yang disunnahkan untuk disegerakan, sahur justru dianjurkan dilakukan sedekat mungkin dengan waktu fajar (Imzak/Subuh).
Rasulullah SAW biasanya menyelesaikan sahur dalam jarak waktu yang setara dengan membaca 50 ayat Al-Qur’an sebelum azan Subuh berkumandang. Mengakhirkan sahur bukan berarti kita terburu-buru, melainkan untuk memastikan tubuh tetap bugar dan mengurangi durasi rasa lapar selama berpuasa.
2. Mengonsumsi Kurma sebagai Menu Sahur
Banyak orang hanya mengaitkan kurma dengan waktu berbuka. Padahal, mengonsumsi kurma saat sahur adalah sunnah yang ditegaskan oleh Nabi SAW. Beliau bersabda, “Sebaik-baik sahur seorang mukmin adalah kurma.” (HR. Abu Dawud).
Secara medis, kurma mengandung serat dan gula alami (fruktosa) yang dilepaskan secara perlahan ke dalam darah (slow release energy), sehingga membantu menjaga kadar gula darah tetap stabil lebih lama dibandingkan karbohidrat sederhana lainnya.
3. Tidak Meninggalkan Sahur Walau Hanya dengan Seteguk Air
Mungkin ada saatnya kita merasa sangat mengantuk atau perut terasa kenyang sehingga malas untuk bangun sahur. Namun, mengikuti keutamaan makan sahur tetap sangat dianjurkan meski hanya dengan meminum seteguk air. Hal ini dilakukan agar kita tidak kehilangan keberkahan sahur dan tetap mendapatkan predikat sebagai pengikut sunnah yang taat.
4. Membaca Doa dan Beristighfar di Waktu Sahur
Waktu sahur jatuh pada sepertiga malam terakhir, yang merupakan waktu paling mustajab untuk berdoa. Salah satu amalan sunnah di bulan Ramadhan yang jarang dimaksimalkan adalah beristighfar di waktu sahur. Allah SWT memuji hamba-Nya yang memohon ampunan pada waktu sahur dalam QS. Adz-Dzariyat ayat 18: “Dan pada akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah).”
5. Berniat dengan Ikhlas
Meskipun niat puasa bisa dilakukan sejak malam hari, mengukuhkan kembali niat saat sahur secara sadar bahwa kita makan untuk menjalankan perintah Allah adalah bagian dari adab bersahur yang meningkatkan kualitas batiniah kita.
Manfaat Medis Mengikuti Sunnah Nabi Saat Sahur
Mengikuti tata cara sahur sesuai sunnah bukan hanya soal pahala, tetapi juga tentang kesehatan yang optimal. Berikut adalah beberapa manfaat kesehatan yang selaras dengan anjuran Nabi:
-
Menjaga Metabolisme: Dengan mengakhirkan sahur, jeda antara makan terakhir dan waktu berbuka menjadi lebih pendek, sehingga mencegah penurunan metabolisme yang drastis.
-
Mencegah Dehidrasi: Anjuran untuk tetap bersahur meskipun hanya dengan air membantu tubuh menjaga hidrasi seluler sebelum memasuki masa puasa.
-
Kesehatan Pencernaan: Mengonsumsi kurma (sebagai menu sahur sehat ala Rasulullah) memberikan asupan serat yang cukup untuk mencegah sembelit selama bulan puasa.
Strategi Mengoptimalkan Waktu Sahur Agar Tidak Kesiangan
Menjalankan Sunnah Nabi saat sahur membutuhkan kedisiplinan. Berikut adalah beberapa tips agar Anda bisa bangun tepat waktu dan menjalankan sunnah dengan tenang:
-
Tidur Lebih Awal: Hindari begadang untuk hal-hal yang tidak bermanfaat setelah shalat Tarawih.
-
Persiapkan Menu Sejak Malam: Agar tidak membuang waktu memasak di saat sahur yang mepet (mengakhirkan sahur), siapkan bahan makanan sebelumnya.
-
Gunakan Alarm Ganda: Pasang alarm 30-45 menit sebelum waktu fajar agar Anda punya waktu untuk shalat malam (Tahajud) sebelum mulai makan sahur.
FAQ: Pertanyaan Umum Seputar Sunnah Nabi Saat Sahur
1. Apakah sah puasa seseorang jika tidak makan sahur?
Puasa tetap sah karena sahur hukumnya adalah sunnah muakkad (sunnah yang sangat dianjurkan), bukan rukun puasa. Namun, orang tersebut kehilangan keberkahan besar yang dijanjikan Rasulullah SAW.
2. Kapan waktu batas akhir sahur yang sebenarnya?
Batas akhir sahur adalah saat terbit fajar shadiq (masuknya waktu Subuh). Waktu Imsak yang populer di Indonesia biasanya merupakan “lampu kuning” atau peringatan 10 menit sebelum Subuh agar kita segera menyelesaikan makan dan bersiap shalat.
3. Apa yang harus dilakukan jika azan berkumandang saat makanan masih di tangan?
Jika azan yang berkumandang adalah azan kedua (tanda masuk waktu Subuh), maka makan dan minum harus segera dihentikan. Namun, para ulama menyarankan untuk berhati-hati dengan berhenti makan sesaat sebelum azan sebagai bentuk ikhtiyat (kehati-hatian).
4. Bolehkah sahur hanya dengan minum air putih saja?
Sangat boleh. Secara syariat, itu sudah terhitung mengikuti sunnah bersahur jika memang tidak ada makanan lain atau sedang tidak berselera makan.
Kesimpulan: Jemput Keberkahan dengan Sahur yang Sempurna
Menjalankan Sunnah Nabi saat sahur adalah cara terbaik bagi setiap Muslim untuk meraih kualitas puasa yang tidak hanya sekadar menahan lapar. Dengan mengakhirkan waktu sahur, mengonsumsi kurma, dan memperbanyak istighfar, kita sedang menyelaraskan tubuh dan jiwa dengan bimbingan wahyu.
Jangan biarkan sahur Anda hanya menjadi rutinitas fisik yang melelahkan. Jadikan momen ini sebagai jembatan untuk meraih ridha Allah SWT. Mari mulai besok pagi, praktikkan kembali sunnah-sunnah kecil yang sering terlupakan ini agar Ramadhan tahun ini menjadi yang terbaik dalam hidup Anda.

Nasafi Ahmad adalah penulis produktif yang telah mendedikasikan bertahun-tahun perjalanannya untuk mendalami, mengkaji, dan mendiseminasikan ilmu fikih kepada masyarakat luas. Sebagai salah satu pilar utama di kanal fiqih.id, Nasafi dikenal karena kemampuannya menjembatani kompleksitas teks-teks klasik (kitab kuning) dengan realitas problematika umat di era modern.
Selengkapnya : https://fiqih.id/author-profile/




